slideshow

Minggu, 13 Mei 2012

Model Irisan Penampang Batang


MODEL IRISAN PENAMPANG BATANG
I.     PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam pembelajaran ke arah paradigma konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak begitu saja bisa ditransfer oleh guru ke pikiran siswa, tetapi pengetahuan tersebut dikonstruksi di dalam pikiran siswa itu sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa (teacher centered), tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Dalam kondisi seperti ini, guru atau pengajar lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Jadi, siswa atau pebelajar sebaiknya secara aktif berinteraksi dengan sumber belajar, berupa lingkungan. Lingkungan yang dimaksud (menurut Arsyad, 2002) adalah guru itu sendiri, siswa lain, kepala sekolah, petugas perpustakaan, bahan atau materi ajar (berupa buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video, atau audio, dan yang sejenis), dan berbagai sumber belajar serta fasilitas (OHP, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat-pusat sumber belajar, termasuk alam sekitar).
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/pebelajar atau mungkin juga guru). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). Adakalanya proses penafsiran
tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar (Sadiman, dkk., 1990).
Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif (Gagne, 1985) dan efisien.
Materi kali ini berhubungan dengan salah satu jenis media yaitu media yang berbentuk model. Salah satu contohnya adalah model penampang batang. Pada makalah ini kami akan membahas mengenai definisi, karakteristrik, dan lain-lainnya tentang model irisan penampang batang.

B.   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1.   Apa pengertian dari model irisan penampang batang ?
2.  Bagaimana karakteristik dari model irisan penampang batang ?
3.  Bagaimana cara produksi dari model irisan penampang batang ?
4.  Bagaimana cara kerja dari model irisan penampang batang ?
5.  Bagaimana manfaat dan  dimana tempat pemanfaatan dari model irisan penampang batang ?

C.   Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan :
1.  Agar mahasiswa mengetahui tentang pengertian model irisan penampang batang.
2.  Agar mahasiswa mengetahui karakteristik model irisan penampang batang.
3.  Agar mahasiswa mengetahui cara produksi model irisan penampang batang.
4.  Agar mahasiswa mengetahui cara kerja model irisan penampang batang.
5.  Agar mahasiswa mengetahui manfaat dan tempat pemanfaatan dari model irisan penampang batang.

D.   Metode
Metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah metode secara langsung. Metode ini mengkaji beberapa referensi tentang model irisan penampang batang.
II.    PEMBAHASAN
A.   Pengertian model irisan penampang batang
Sebelum kami menjabarkan definisi dari model irisan penampang batang. Terlebih dahulu kami akan menjabarkan pengertian dari media. Media adalah berarti perantara atau pengantar. Association for Education and Communication Technology (AET) mengartikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi, sedangkan National Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrument yang digunakan untuk kegiatan tersebut. 

Salah satu jenis media pembelajaran adalah model atau benda tiruan. Irisan penampang batang ini adalah salah satu jenis media pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran biologi.  Irisan penampang batang adalah media pelajaran yang mengandung dan membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari yang berfungsi untuk menurunkan keabstrakan dari konsep sehingga siswa dapat menerima pengalaman belajar langsung dengan real.




B.   Karakteristik model irisan penampang batang
Karakteristik  Model penampang yaitu diantaranya :
1.    Media tiga dimensi yang memperlihatkan bagaimana sebuah objek tampak.
2.    Apabila bagian permukaannya dibuang untuk mengetahui susunan dalamnya.
3.    Termasuk alat peraga langsung
4.    memperlihatkan struktur bagian dalam suatu bentuk atau obyek agar men-dapatkan pengertian yang jelas tentang bagian-bagiannya.
5.       sering disebut model X-Ray atau model Crossection.

Model irisan penampang batang menjelaskan bagian-bagian dari batang tanaman. Biasanya berbentuk batang yang bisa dibuka bagian atasnya sehingga kita bisa melihat bagian dalamnya. Bagian dalam model ini juga disesuaikan dengan bagian dalam sebuah batang tanaman, sehingga para siswa mampu mempelajarinya secara nyata.

Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuan membangkitkan rangsang indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, maupun penciuman.
Kemp ( 1975 ) karakteristik media merupakan dasar pemilihan media sesuai dengan situasi belajar tertentu. Kemp (1975) “The Question ao what media attributes are necessary for agiven learning situation becomes the basis for media selection”. Jelaslah bahwa klasifikasi media, karakteristik media, dan pemilihan media merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran.

C.   Cara Produksi


D.   Cara Kerja
Untuk mengetahui cara kerja dari model penampang batang. Maka kami akan menyajikan contoh sebagai berikut :

1.    Batang Dikotil
Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar ke dalam :
a. Epidermis
Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus.
b. Korteks
Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.
c. Endodermis
Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.

d. Stele/ Silinder Pusat
Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar.
Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang.
Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.
2.    Batang Monokotil
Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp).
Disini dapat kita telaah bahwa cara kerja dari model penampang bantang adalah wadahnya terbagi atas 2 sisi. Yang apabila bagan atasnya dibuka, maka bagian dalamnya akan memperlihatkan tiruan dari bagian-bagian batang pada sebiah tanaman.

E.   Manfaat dan tempat Pemanfaatannya
Manfaat model penampang batang dalam proses pembelajaran adalah :
1.    Memberikan  dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir (tidak verbalistis)
2.    Menarik perhatian siswa terhadap pelajaran.
3.    Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, sehingga memungkinkan hasil belajar lebih tahan lama.
4.    Memberi pengalaman-pengalaman nyata pada siswa sehingga usaha belajar sendiri dapat berkembang.
5.    Mengembangkan keteraturan dan kontinyunitas berpikir.
6.    Ikut membantu pertumbuhan pengertian yang berakibat pula pada pertumbuhan kosa kata.
7.      Membuat kegiatan belajar menjadi mendalam efisien, dan beraneka ragam.
8.    Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar,sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seprti mengamati, melaksanakan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Model irisan penampang batang biasa dlakukann pada saat pelajaran IPA di sekolah. Baik di dalam kelas maupun pada saat prakteknya. Selain itu juga, model ini biasanya dipakai pada saat adanya presentasi-presentasi di bidang pertanian.
Model irisan penampang batang ini juga banyak dipakai dalam praktek–praktek di kampus, khususnya pada jurusan Biologi, Fisika, dan lain sebagainya.



III.      PENUTUP

A.     Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Irisan penampang batang adalah media pelajaran yang mengandung dan membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari yang berfungsi untuk menurunkan keabstrakan dari konsep sehingga siswa dapat menerima pengalaman belajar langsung dengan real.
2.    karakteristik media merupakan dasar pemilihan media sesuai dengan situasi belajar tertentu. Kemp (1975) “The Question ao what media attributes are necessary for agiven learning situation becomes the basis for media selection”. Jelaslah bahwa klasifikasi media, karakteristik media, dan pemilihan media merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran.
3.    Model irisan penampang batang biasa dlakukann pada saat pelajaran IPA di sekolah. Baik di dalam kelas maupun pada saat prakteknya. Selain itu juga, model ini biasanya dipakai pada saat adanya presentasi-presentasi di bidang pertanian.





IV.         REFERENSI

http://aimarusciencemania.wordpress.com/2011/11/26/24/   diakses pada tanggal 12 Maret 2012
http://mamikslawi.wordpress.com/  diakses pada tanggal 12 Maret 2012
http://padmono.staff.fkip.uns.ac.id/2011/02/18/buku/  diakses pada tanggal 12 Maret 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar